Selamat datang kembali

Lupa kata sandi?

Baru di sini? Buat akun

Bahasa

Kisah

Kisah VoidVerse

Umat manusia mencabik dirinya sendiri, lalu Void datang. Beginilah para penyintas mencapai galaksi baru, dan inilah sebabnya Void masih ada di luar sana.

Awal

Runtuhnya Dunia Lama

Selama dua abad, Tata Surya berperang melawan dirinya sendiri. Bumi, Mars, Venus, serta bulan-bulan Jupiter dan Saturnus masing-masing punya pemerintahan, armada, dan alasannya sendiri. Pertempuran berpusat di Bumi, yang diklaim setiap faksi dan tak sanggup dipertahankan satu pun. Perjanjian damai hanya bertahan satu musim. Tak ada yang bisa menang, dan tak ada yang mampu berhenti.

Lalu Void datang.

Tak seorang pun tahu dari mana asalnya. Kapal-kapal pertama muncul di luar orbit Neptunus dan tidak menjawab satu panggilan pun. Dalam setahun, mereka telah mencapai planet-planet dalam. Mereka tidak bernegosiasi dan tidak menawan siapa pun. Kota-kota yang selamat dari perang turun-temurun lenyap dalam satu sore. Faksi-faksi, yang terbiasa saling memerangi, tak punya jawaban atas musuh yang tidak memerangi siapa pun secara khusus. Satu per satu armada mereka dihancurkan, dan koloni-koloni di belakangnya pun membisu.

Lalu Sang Cahaya muncul.

Ia lebih merupakan kehadiran daripada makhluk, dan ia berbicara lewat pikiran, bukan kata-kata. Ia menunjukkan kepada para penyintas satu jalan keluar: satu kapal generasi, dibangun bersama oleh semua faksi, dan sebuah gerbang yang akan dibuka Sang Cahaya di seberang Matahari. Ke mana gerbang itu menuju, ia tidak mengatakannya. Tetap tinggal berarti punah.

Faksi-faksi membangun kapal itu. Pembangunannya menghabiskan sisa sumber daya mereka dan sebagian besar kepercayaan mereka. Lalu sisa umat manusia melewati gerbang itu, dan Tata Surya menjadi gelap di belakang mereka.

Kembali ke daftar bab

Bagian 1

Perjalanan Menembus Jurang

Gerbang itu seharusnya mengakhiri perang. Ternyata ia hanya menjadi tempat baru untuk melanjutkannya.

Kapal eksodus itu dibangun oleh musuh-musuh lama, dan ia membawa mereka semua. Berbulan-bulan kapal itu hanyut dalam gelap di dalam gerbang, tanpa bintang untuk dijadikan pedoman. Garis-garis lama di antara faksi muncul kembali, dek demi dek. Dewan-dewan pecah menjadi kelompok, kelompok menjadi pasukan bersenjata, dan pertengkaran soal jatah makanan menjadi pertengkaran soal siapa yang akan memimpin di seberang sana.

Lalu reaktornya gagal.

Sabotase atau kecelakaan, hal itu tak pernah terjawab. Kru perbaikan menahan reaktor itu selama tiga hari, dan puluhan dari mereka tewas karenanya. Saat semuanya usai, kapal itu masih bisa terbang, tetapi tak lagi mampu menjaga semua orang tetap hidup bersama-sama.

Gerbang itu melepaskan kapal ke wilayah galaksi yang tak dikenal, penuh bintang yang belum pernah dipetakan siapa pun. Faksi-faksi membagi apa yang bisa dibagi: pesawat ulang-alik, perbekalan, mesin, data. Lalu mereka berpisah jalan, masing-masing mencari rumahnya sendiri, tanpa satu pun percaya bahwa yang lain akan menjauh.

Kamu memimpin salah satu faksi itu.

Kembali ke daftar bab

Bagian 2

Fajar Zaman Baru

Kapal-kapalmu mencapai sebuah planet yang belum terpetakan, membawa sisa rakyatmu.

Dunia itu baru, dan belum pernah ada yang memperebutkannya. Ia bisa menjadi rumah, atau bisa menjadi garis depan berikutnya. Perbekalan menipis, kepercayaan lebih tipis lagi, dan Void mungkin masih ada di luar sana. Bumi telah hilang, mungkin untuk selamanya. Faksi-faksi lain berada entah di mana di antara bintang-bintang ini; sebagian mungkin mau bekerja sama, sebagian tidak.

Kamu bertanya pada dirimu sendiri apa yang ditanyakan setiap pemimpin pada masa itu. Akankah ada yang melihat Bumi lagi? Bisakah semua ini dijalani dengan cara lain? Atau akankah kesalahan lama sekadar ikut pindah bersamamu?

Permukiman itu bertahan. Berbulan-bulan kemudian, mimpi-mimpi mulai datang. Awalnya samar: suara-suara jauh, bentuk-bentuk cahaya di dalam gelap. Lalu semuanya menjadi jelas, dan kamu mengenali suara yang dulu menuntun umat manusia keluar dari Tata Surya.

Suatu malam, di balkon pusat komando barumu, kamu mendengarnya dalam keadaan terjaga.

"Kalian telah bertahan hidup. Itu belum cukup. Apa yang akan kalian lakukan sekarang?"

"Siapa kalian?" tanyamu. "Kenapa kalian menolong kami?"

"Dulu kami seperti kalian, diburu oleh Void. Kami lari, kami bersembunyi, kami bertempur, sampai kami pergi melampaui jangkauannya. Saat itu, kami melepaskan hak untuk ikut campur. Seharusnya kami tidak berbicara denganmu. Tetapi umat manusia kini berdiri di tempat kami dulu berdiri, dan Void tidak akan berhenti."

"Kalau begitu, beri tahu aku cara melawannya."

"Pilihan itu milikmu. Kami hanya bisa menasihati, tidak lebih. Belajarlah. Jadilah kuat. Dan yang terpenting, jangan berdiri sendirian. Jika kalian gagal, umat manusia tidak akan bangkit melampaui ini. Ia akan berakhir."

Suara itu memudar. Kamu masih berdiri di balkon beberapa saat lagi, di bawah langit yang bintang-bintangnya belum kamu kenal.

Kembali ke daftar bab

Bagian 3

Kapal-Kapal Pertama Era Baru

Tahun-tahun pertama terasa berat. Planet itu bisa menopang kehidupan, tetapi nyaris tidak, dan hanya dengan kerja tanpa henti: terraforming, penambangan, penjatahan. Cuacanya tak bisa ditebak, dan perbekalan selalu kurang. Ada perselisihan, dan sebagian berujung kekerasan. Namun koloni itu bertahan.

Para insinyurmu membongkar sisa teknologi eksodus dan membangun sesuatu yang baru darinya. Setelah bertahun-tahun bekerja, galangan kapal pertama selesai, dan kapal tempur serta kapal angkut pertama meninggalkan doknya. Untuk pertama kalinya sejak eksodus, rakyatmu bisa membela diri, menjelajah di luar planet mereka sendiri, dan merebut tempat di galaksi ini.

Faksi-faksi lain juga sedang membangun. Seiring armada mereka tumbuh, ambisi mereka pun ikut tumbuh. Sebagian berekspansi karena yakin harus, sebagian lagi karena bisa. Syarat-syarat bagi perang berikutnya sudah tersedia.

Pada malam kapal perang pertama menyelesaikan uji cobanya, suara itu kembali.

"Kalian sedang mengambil langkah pertama menuju kekuasaan. Kekuasaan bermata dua. Bagaimana kalian akan menggunakannya?"

"Untuk memastikan kami tak pernah mengalami ini lagi," jawabmu. "Untuk menjadi cukup kuat menghentikan Void."

Hening sejenak.

"Kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah kehancuran. Jika perang satu-satunya yang kalian cari, kalian bisa menjadi apa yang kalian takuti."

Lalu ia pergi, dan pertanyaan itu tetap tinggal bersamamu: akankah faksi-faksi bersatu melawan Void, atau saling mencabik sebelum Void sempat kembali?

Kembali ke daftar bab

Kisah berlanjut di dalam game

Mulai bagian 4, setiap bagian sampai kepadamu sebagai transmisi selagi kamu bermain. Mulai kekaisaranmu untuk menerima sinyal berikutnya.