Awal
Runtuhnya Dunia Lama
Selama dua abad, Tata Surya berperang melawan dirinya sendiri. Bumi, Mars, Venus, serta bulan-bulan Jupiter dan Saturnus masing-masing punya pemerintahan, armada, dan alasannya sendiri. Pertempuran berpusat di Bumi, yang diklaim setiap faksi dan tak sanggup dipertahankan satu pun. Perjanjian damai hanya bertahan satu musim. Tak ada yang bisa menang, dan tak ada yang mampu berhenti.
Lalu Void datang.
Tak seorang pun tahu dari mana asalnya. Kapal-kapal pertama muncul di luar orbit Neptunus dan tidak menjawab satu panggilan pun. Dalam setahun, mereka telah mencapai planet-planet dalam. Mereka tidak bernegosiasi dan tidak menawan siapa pun. Kota-kota yang selamat dari perang turun-temurun lenyap dalam satu sore. Faksi-faksi, yang terbiasa saling memerangi, tak punya jawaban atas musuh yang tidak memerangi siapa pun secara khusus. Satu per satu armada mereka dihancurkan, dan koloni-koloni di belakangnya pun membisu.
Lalu Sang Cahaya muncul.
Ia lebih merupakan kehadiran daripada makhluk, dan ia berbicara lewat pikiran, bukan kata-kata. Ia menunjukkan kepada para penyintas satu jalan keluar: satu kapal generasi, dibangun bersama oleh semua faksi, dan sebuah gerbang yang akan dibuka Sang Cahaya di seberang Matahari. Ke mana gerbang itu menuju, ia tidak mengatakannya. Tetap tinggal berarti punah.
Faksi-faksi membangun kapal itu. Pembangunannya menghabiskan sisa sumber daya mereka dan sebagian besar kepercayaan mereka. Lalu sisa umat manusia melewati gerbang itu, dan Tata Surya menjadi gelap di belakang mereka.